Kesehatan

Korea Selatan Laporkan Kematian Pertama akibat Amoeba Pemakan Otak, Ini 8 Hal yang Perlu Diketahui

Pihak berwenang Korea Selatan pada hari Senin (26/12/2022) melaporkan kasus kematian pertama akibat amoeba pemakan otak. Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA), menurut kantor berita Yonhap, mengonfirmasi bahwa seorang pria Korea berusia 50 tahun yang baru saja kembali dari Thailand, meninggal karena penyakit tersebut. Dilansir , inilah yang perlu diketahui tentang amoeba pemakan otak.

Nama ilmiah untuk amoeba pemakan otak ini adalah 'Naegleria fowleri'. Naegleria fowleri merupakan organisme mikroskopis bersel tunggal yang ditemukan di air tawar yang hangat seperti danau, sungai, dan mata air panas. Naegleria fowleri dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui air yang terinfeksi.

Ini bisa terjadi ketika seseorang berenang, menyelam, atau membenamkan kepala ke dalam air yang terkontaminasi amuba ini. Menurut Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), amoeba itu bergerak ke hidung dan memasuki rongga otak di mana ia perlahan lahan menghancurkan jaringan otak. Amoeba itu akan menyebabkan infeksi yang jarang, tetapi biasanya fatal yang disebut meningoensefalitis amuba primer (PAM).

Bahkan jika seseorang tidak berenang di badan air yang disebutkan di atas, mereka masih berisiko terkena infeksi jika menggunakan air yang terkontaminasi Naegleria fowleri untuk membersihkan hidung dan membersihkan sinus. Dalam kasus yang jarang terjadi, seseorang dapat terinfeksi dari air kolam bebas klorin, taman air, dan lainnya. Amoeba pemakan otak pertama kali ditemukan di Amerika Serikat pada tahun 1937.

CDC memperingatkan bahwa pada bulan bulan hangat yakni Juli, Agustus dan September, amoeba pemakan otak mungkin ada di badan air tawar mana pun di AS. Amoeba pemakan otak tidak ada dalam air garam, atau air payau. Organisme ini tumbuh subur di air hangat dan panas dan tumbuh paling baik di suhu tinggi hingga 46°C.

Tetapi terkadang, ia dapat bertahan hidup di suhu yang lebih hangat. Kasus yang dilaporkan pada Senin (26/12/2022) ini merupakan kasus pertama amoeba pemakan otak di Korea Selatan. Di AS antara periode 2012 2021, rata rata nol hingga lima kasus dilaporkan setiap tahunnya.

Pada 2018, total 381 kasus telah dilaporkan dari seluruh dunia, terutama dari AS, India, dan Thailand. Sebagian besar anak laki laki berusia 14 tahun atau lebih muda lebih rentan terhadap amoeba pemakan otak. Namun, menurut CDC, hal ini dikarenakan anak laki laki biasanya lebih banyak beraktivitas di tempat tempat risiko tinggi terdapat amoeba pemakan otak.

Tidak. Orang yang terinfeksi amoeba pemakan otak tidak dapat menularkan penyakitnya ke orang lain. Gejala umum termasuk demam, mual, dan muntah biasanya dimulai sekitar lima hari setelah terinfeksi. Gejala lain yang terjadi pada tahap infeksi selanjutnya adalah leher kaku, kebingungan, kurangnya perhatian pada orang dan lingkungan, kejang, halusinasi, dan koma.

Pada akhirnya, jaringan otak dapat hancur hingga menyebabkan pembengkakan di otak dan akhirnya kematian. Penyakit ini berkembang dengan cepat dan umumnya kematian terjadi antara satu sampai lima hari setelah infeksi. Dalam hampir 97 persen kasus, infeksi berakibat fatal.

Saat ini, tidak ada pengobatan yang ditetapkan untuk mengatasi infeksi terhadap amuba. Hal itu terutama disebabkan oleh sifat langka dari infeksi ini. Namun, sejumlah obat ditemukan bermanfaat dalam pengobatan.

Kasus amoeba mematikan memang saat ini jarang terjadi. Tetapi mengingat perubahan iklim dan pemanasan global, di mana amoeba menyukai panas, infeksi dapat berkembang menjadi lebih umum. Artikel ini merupakan bagian dari

KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *